Menjadi Orang Asing di Dunia


Penulis: Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh
Diterjemahkan dari Penjelasan Hadits Arba’in No. 40. Oleh: Abu Fatah Amrulloh
Murojaah: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori)

Penjelasan
Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berisi nasihat nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. Hadits ini dapat menghidupkan hati karena di dalamnya terdapat peringatan untuk menjauhkan diri dari tipuan dunia, masa muda, masa sehat, umur dan sebagainya. Baca pos ini lebih lanjut

MENGAPRESIASIKAN DAN MENYAJIKAN KARYA SENI MUSIK NUSANTARA


Kekayaan musik daerah tidak hanya dilihat dari bahasa, tangga nada, serta latar belakang budayanya saja, melainkan dapat dilihat dari alat musik yang digunakan. Ada bermacam-macam alat musik yang kita kenal. Perbedaan alat musik tersebut mengakibatkan perbedaan cara memainkannya. Ada alat musik yang dipetik, ditiup, digesek, atau dipukul. Selain itu, perbedaan alat musik dapat terjadi karena sumber bunyinya. Ada alat musik yang sumber bunyinya udara, dawai/tali/senar, dan selaput kulit, bahkan ada yang sumber bunyinya berasal dari alat musik itu sendiri.

A. Jenis Alat Musik tradisional Nusantara

1. Alat Musik Daerah Berdasarkan Sumber Bunyi

Pembagian alat musik daerah berdasarkan sumber bunyinya dapat dibedakan menjadi empat bagian, yaitu :

a.      Membranofon

Membranofon adalah kelompok alat musik yang sumber bunyinya berasal dari membran atau selaput kulit. Contoh : tifa (Maluku dan Irian), kendang (Jawa Tengah dan Bali), Panungtung (Sunda), marwas (Aceh), ketipung dan rebana (Jawa Tengah dan Betawi).

 


Kendang dari Jawa Tengah


b.     Idiofon

Idiofon adalah kelompok alat musik yang sumber bunyinya berasal dari badan alat musik itu sendiri. Alat musik ini biasanya dimainkan dengan cara dipukul dan mempunyai alat bantu tersendiri. Contoh : gong, saron, dan gender (Jawa Tengah, Sunda , dan Bali), angklung, arumba, dan calung (Jawa Barat), kolintang (Sulawesi Utara), gambang (Jawa Tengah), cungklik (lombok), talempong (Sumatra), dan doli-doli (Nias)

 

 

Gong, dari Jawa Tengah

c.      Aerofon

Aerofon adalah kelompok alat musik yang sumber bunyinya berasal dari getaran udara. Alat musik ini dimainkan dengan cara ditiup atau dipompa. Contoh : Gong angin (Jawa Barat), tarompet (Jawa Barat), basi-basi (Sulawesi Selatan), foi mere (Flores), gogolio (Betawi), kledi (Kalimantan), dan nafiri (Maluku).

 

Aerofon, Jenis alat musik tiup

d.     Kordofon

Kordofon adalah kelompok alat musik yang sumber bunyinya berupa dawai, senar, atau tali yang bergetar. Biasanya alat musik ini mempunyai resonasi, memainkannya ada yang dipetik, ada yang digesek, dan ada juga yang ditekan. Contoh : rebab (Jawa Tengah), tarawangsa dan kecapi (Jawa Barat), siter (Jawa Tengah), sasando (Timor), talindo (Sulawesi Selatan), rendo (Banten), keso-keso (Toraja), dan sampek (Kalimantan).

 

Kecapi, dari Jawa Barat

Baca pos ini lebih lanjut

Ikhlas


Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)

Kedudukan Hadits
Materi hadits pertama ini merupakan pokok agama. Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Ada Tiga hadits yang merupakan poros agama, yaitu hadits Úmar, hadits Aísyah, dan hadits Nu’man bin Basyir.” Perkataan Imam Ahmad rahimahullah tersebut dapat dijelaskan bahwa perbuatan seorang mukallaf bertumpu pada melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Inilah halal dan haram. Dan diantara halal dan haram tersebut ada yang mustabihat (hadits Nu’man bin Basyir). Untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan dibutuhkan niat yang benar (hadits Úmar), dan harus sesuai dengan tuntunan syariát (hadits Aísyah). Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.