Bedug

 

Bedug dapat diartikan dalam dua pengertian, sebagai bentuk musik atau sebagai waditra/intrumen musik.

Sebagai waditra bedug merupakan alat musik membranofon berukuran besar yang digantungkan/ditempatkan pada standar berbentuk gawang. Ukuran panjang badannya sekitar satu meter dan berdiameter sekitar 75 cm. Ada lagi beberapa bedug berukuran kecil. Membran waditra bedug beasal dari kulit sapi/kerbau. Pemukul bedug dibuat dari tongkat yang ujungnaya dibalut dengan kain.

Sebagai bentuk musik, bedug sebagian besar merupakan ansambel perkusi yang berfungsi sebagai kegiatan adat keagamaan (Islam), meski ada beberapa jenis yang fungsinya tidak berhubungan dengan kegiatan agama Islam, misalnya seni bedug lojor yang dipergunakan untuk upacara adat Mapag Sri, Hajat Bumi, dan lain-lain. Sebagai contoh kita angkat dua bentuk jenis seni bedug yang berkaitan erat dengan kegiatan keagamaan Islam, yaitu bedug kidulan dari Kabupaten Cianjur dan adu bedug dari Kabupaten Pendeglang.

Seni bedug kidulan berasal dari Kabupaten Cianjur, adalah jenis seni bedug yang dipadu padankan dengan kohkol, berfungsi sebagai pengiring pupujian kepada Alloh SWT pada saat takbiran dalam peringatan hari besar Islam

Pada awalnya seni bedug kidulan disebarluaskan oleh seorang ulama Islam yaitu H. Buhtani dengan maksud menarik pemuda untuk ikut shalat, dan berkembang menjadi seni bedug yang ada saat ini.

Instrumen yang dipergunakan dalam bedug kidulan antara lain: bedug, kohkol 4 buah berurutan dari besar hingga kecil, kecrek bambu, pemukul bedug. Lagu yang dibawakan adalah lagu tradisional atau kreasi baru.

Seni lain yang sejenis adalah seni adu bedug dari daerah Kabupaten Pandeglang, dan tersebar di sekitar Kabupaten Pandeglang. Menurut keterangan rakyat setempat kesenian adu bedug berkembang sejalan dengan perkembangan agama Islam di sekitar kota Pandeglang (sekitar lereng gunung Karang). Seni bedug ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

  • Bedug selalu di tabuh pada tanggal 15 Ramadhan, berturut-turut setiap malam sesudah shalat tarawih sampai sahur, dengan maksud untuk membangunkan sahur, dan biasanya diadakan adu bedug di setiap langgar
  • Tiap sehari setelah Hari Raya Idul Fitri selalu diadakan adu bedug.


    Seni Bedug

Seni adu bedug juga mendapat pengaruh dari beberapah kesenian lain, dan ini terbukti dengan adanya lagu-lagu yang dimaikan merupakan lagu-lagu dari seni yang lain seperti lagu patingtungan yang merupakan lagu dari pencakturumbun banten, dan lagubuhun rudatan berasal dari kesenian Mawalan. Dan sekarang ini bayak lagu-lagu dangdut yang di bawakan dalan kesenian bedug.

Waditra-waditra yang dipergunakan dalam seni adu bedug antara lain :

  • Bedug besar disebut gebrang/brang, jumlah pemukul 7 s.d 10 orang, berfungsi sebagai gong pada kawaritan.
  • Bedug kecil yang bernama dolongdong jumlah pemukul 1 orang, berfungsi sebagai penerus/pengantar lagu.
  • Bedug kecil antung dengan jumlah pemukul 1 orang, berfungsi sebagai penyelang kedua.
  • Bedug kecil anting jumlah pemukul 1 orang, berfungsi sebagai penyelang pertama.
  • Bedug kecil tilingtit jumlah pemukul 1 orang berfungsi sebagai pemula lagu.

Perihal maskapache
Terus belajar untuk mencari sebuah kebaikan...

One Response to Bedug

  1. Mochammad mengatakan:

    Wah, menarik informasinya… Tambah pengetahuan lagi…
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: